Mesti Coba! Wisata Keliling Desa Naik Gerobak Sapi di Sleman

Jelang kendaraan bermotor berevolusi cepat, masyarakat desa banyak sekali yang mengandalkan kendaraan gerobak sapi. Jika mau bernostalgia, Sleman menawarkan hiburan wisata berkeliling desa naik gerobak sapi. Gerobak-gerobak sapi di Kawasan Sleman, Provinsi DIY saat ini tak lagi digunakan untuk aktivitas bertani. Gerobak sapi oleh Paguyuban Gerobak Sapi Makarti Roso Manunggal saat ini dipakai untuk aktivitas wisata pedesaan.

Wisatawan baik domestic ataupun luar negeri bisa pakai gerobak sapi keliling desa. Turis bisa latihan berbagai hal di desa. Selain naik gerobak , tetapi turis diajak edukasi pertanian dengan cara singkat ataupun aktivitas lain yang dikerjakan kaum ibu di desa. Masyarakat Dusun Somodaran Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan Sleman bersama dengan Paguyuban Gerobak Sapi Makarti Roso Manunggal serta PT Gamawisata saat ini meresmikan pariwisata gerobak sapi, Peresmian yang dilaksanakan di Omah Teh, Desa Somodaran itu di hadiri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas dan Wakil Bupati Sleman, Yuni Satiya Rahayu. Ketika peresmian tamu-tamu diajak menggunakan gerobak sapi dari Omah Teh kearah situs purbakala warisan abad 9 Masehi di Candi Sari. Perjalanan yang ditempuh dengan menjelajahi selokan Mataram itu sekitar 2,5 kilometer.

Direktur PT Gamawisata, Cunduk Bagus Sudarwono menyatakan pariwisata gerobak sapi yang dilaksanakan bersama dengan masyarakat Dusun Somodaran ini, selain mengajak turis berwisata berkeliling desa memakai gerobak sapi. Tetapi wisatawan dijemput belajar bersama dengan masyarakat misalnya bertani, keterampilan memproduksi telur asin, kue-kue tradisional yang dilakukan perempuan di desa. “Tidak selalu naik gerobak sapi aja, tapi anda ajak belajar beraneka keterampilan singkat,” ujar Bagus.

Buat paket wisata gerobak sapi yang dipusatkan di Omah Teh tersebut lanjut dia, setiap wisatawan akan dipungut biaya antara Rp 150 ribu – 200 ribu. Akan tetapi waktu yang diperlukan untuk mengitari dusun memakai gerobak sapi dan tiket kegiatan yang lainnya memerlukan waktu sekitar 3 jam. “Paling enak pada saat pagi hari, lantaran udara di desa masih segar dan hampar persawahan pun masih banyak,” katanya.

Ketika peresmian, GKR Hemas menyebutkan tentang pengalamannya di masa kecil ketika tinggal di Yogyakarta pada tahun 1960-an. Kala itu dia bersama dengan keluarganya tinggal di daerah Gondolayu di Jalan Sudirman sekarang. “Dahulu jalanan masih gelap gulita, lalu lintas pun belum ramai. Yang banyak lewat ialah gerobak sapi,” kata Hemas.

Dirinya menuturkan gerobak-gerobak sapi itu terkadang lewat depan rumah di saat pagi hari menjelang subuh. Suara kelontong sapi dari tembaga didengar keras dan itu jadi penanda waktu. “Bila sudah dengan kelontongan sapi di pagi hari, itu pertanda sudah subuh. Jadi kalian sudah tahu bila itu sudah subuh dan saatnya bangun. Tak seperti sekarang yang wajib dibangunkan,” katanya.

Dirinya berharap pariwisata gerobak sapi ini mampu menggerakkan ekonomi warga desa. Karena sekarang sudah sepi warga desa yang mempunyai sapi untuk menarik gerobak atau guna membajak di ladang. “Pariwisata desa mampu menjalankan ekonomi desa didalam berbagai hal, hingga warga masyarakat makin makmur dan sejahtera,” pungkas GKR Hemas.